Kandungan Thimerosal pada vaksin Hepatitis B dapat mengakibatkan autis

Berita BOHONG ini saya dapat dari milis beberapa hari yang lalu,

LUANGKAN WAKTU KAMU SEBENTAR UTK MEMBACA INFO YG BERHARGA INI,jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Kalo udah ketahuan Begini seharusnya Ada Persatuan Orang Tua yang anaknya Mengidap AUTIS untuk menuntut Balik baik itu ke BADAN pengawas OBAT-OBATan. ….Atau langsung kepada yang Menciptakan PRODUK beracun mercuri ini…..

GW Sendiri Udah FEELING kok anak 2 orang DULU (JADUL) gak Ada yang terjangkit AUTIS… Eh udah Gitu Bela dirinya ada orang yang mengKLAIM bahwa ini penyakit GENETIC (BO’ONG BESAR). DAN ternyata sudah mulai terungkap akibat VAKSIN yang mengandung Mercuri….. ..

GW udah CURIGA memang ada UPAYA-UPAYA Bangsa Tertentu yang meracuni BANGSA LAin dengan RACUN-RACUN yang disembunyikan dalam OBAT-OBATAN. Ibarat VIRUS KOMPUTER ..KOnsep Penyebarannya memang seperti TROJAN…

Mulai Sekarang berhati-hatilah, sepertinya PERANG BIO dan PERANG KIMIA sudah mulai dilakukan Bangsa-Bangsa Yang memang terlahir menjadi BANGSA FEODAL untuk meracuni BANGSA LAIN dengan cara-cara yang sangat hina ini.

Vaksin penyebab Autis Buat para Pasangan MUDA, oom dan tante yg punya keponakan atau bahkan calon ibu, perlu nih dibaca ttg autisme. Bisa di share kepada yang masih punya anak kecil supaya ber-hati2.

Setelah kesibukan yg menyita waktu, baru sekarang saya bisa dapat waktu luang membaca buku “Children with Starving Brains” karangan Jaquelyn McCandless,MD yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Grasindo. Ternyata buku yang saya beli di toko buku Gramedia seharga Rp. 50,000, itu benar2 membuka mata saya, dan sayang sekali baru terbit setelah anak saya Joey (27 bln) didiagnosa mengidap Autisme Spectrum Disorder.

Bagian satu, bab 3, dari buku itu benar-benar membuat saya menangis. Selama 6 bulan pertama hidupnya (Agustus 2001 – Februari 2002), Joey memperoleh 3 kali suntikan vaksin Hepatitis B, dan 3 kali suntikan vaksin HiB.

Menurut buku tersebut (halaman 54 – 55) ternyata 2 macam vaksin yang diterima anak saya dalam 6 bulan pertama hidupnya itu positif mengandung zat pengawet Thimerosal, yang terdiri dari Etilmerkuri yang menjadi penyebab utama sindrom Autisme Spectrum Disorder yang meledak pada sejak awal tahun 1990 an.

Vaksin yang mengandung Thimerosal itu sendiri sudah dilarang di Amerika sejak akhir tahun 2001. Alangkah sedihnya saya, anak yang saya tunggu kehadirannya selama 6 tahun, dilahirkan dan divaksinasi di sebuah rumahsakit besar yang bagus, terkenal, dan mahal di Karawaci Tangerang, dengan harapan memperoleh treatment yang terbaik, ternyata malah “diracuni” oleh Mercuri dengan selubung vaksinasi.

Beruntung saya masih bisa memberi ASI sampai sekarang, sehingga Joey tidak menderita Autisme yang parah. Tetapi tetap saja, sampai sekarang dia belum bicara, harus diet pantang gluten dan casein, harus terapi ABA, Okupasi, dan nampaknya harus dibarengi dengan diet supplemen yang keseluruhannya sangat besar biayanya.

Melalui e-mail ini saya hanya ingin menghimbau para dokter anak di Indonesia, para pejabat di Departemen Kesehatan, tolonglah baca buku tersebut diatas itu, dan tolong musnahkan semua vaksin yang masih mengandung Thimerosal. Jangan sampai (dan bukan tidak mungkin sudah terjadi) sisa stok yang tidak habis di Amerika Serikat tersebut diekspor dengan harga murah ke Indonesia dan dikampanyekan sampai ke puskesmas-puskesmas seperti contohnya vaksin Hepatitis B, yang sekarang sedang giat-giatnya dikampanyekan sampai ke pedesaan. Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal.

Juga tolong e-mail ini diteruskan kepada mereka yang akan menjadi orang tua, agar tidak mengalami nasib yang sama seperti saya. Sekali lagi, jangan sampai kita kehilangan satu generasi anak-anak penerus bangsa, apalagi jika mereka datang dari keluarga yang berpenghasilan rendah yang untuk makan saja sulit apalagi untuk membiayai biaya terapi supplemen, terapi ABA, Okupasi, dokter ahli Autisme (yang daftar tunggunya sampai berbulan-bulan) , yang besarnya sampai jutaan Rupiah per bulannya.

Terakhir, mohon doanya untuk Joey dan ratusan, bahkan ribuan teman-teman senasibnya di Indonesia yang sekarang sedang berjuang membebaskan diri dari belenggu Autisme.

“Let’s share with others… Show them that WE care!”

OK, setelah saya mencoba mencari referensi dengan bantuan mbah gugel seperti biasanya, ndak sampe 5 menit dapet banyak artikel yang justru menjelaskan/menginformasikan SEBALIKNYA, bertentangan dengan pesan di atas. Silahkan lihat link di bawah ini:

http://puterakembara.org/rm/Alergi5.shtml
http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=05258&rubrik=sehat

http://avianflutidakseindahnamanya.blogspot.com/2006/10/imunisasi-penyebab-autis.html
http://forum.kafegaul.com/archive/index.php/t-100621.html
http://www.ayahbunda-online.com/forum/default.asp?mpFORUMID=1&mpFORUMNAME=Bayi%20Ayahbunda&mpTOPICID=500&mpTOPTOPIC=500&mpTOPTHREAD=0&mpACTION=ViewThread

jika masih tidak percaya silahkan baca artikel dari WHO di bawah ini

In the latest review by the committee (at its meeting of 6-7 June 2006) the conclusion previously reached was reaffirmed that there is no evidence of toxicity in infants, children or adults exposed to thiomersal in vaccines.http://www.who.int/vaccine_safety/topics/thiomersal/en/

dari New England Journal of Medicine

There was no association between the age at the time of vaccination, the time since vaccination, or the date of vaccination and the development of autistic disorder.Conclusions This study provides strong evidence against the hypothesis that MMR vaccination causes autism.

http://content.nejm.org/cgi/content/abstract/347/19/1477

dari CCBSAutism and ABA (Applied Behaviour Analysis)

The theory that the low levels of mercury in thimerosal, a preservative used in vaccines, caused autism has not been proven, and the authors of the original study retracted their claims.

Quackwatch.com is a Web site devoted to investigating health-related frauds and myths. Here parents can find information about chelation, among other autism treatments that have no scientific validity. Quackwatch, which boasts a 152-member scientific and technical advisory board, reports that studies from the US Centers for Disease Control and Prevention and the Institute of Medicine confirmed that there was no link between thimerosal and autism.

http://www.quackwatch.com/03HealthPromotion/immu/autism.html

Furthermore, thimerosal has been removed from many vaccines, and “none of the vaccines now used to protect preschool children against 12 infectious diseases contain thimerosal as a preservative,” according to Quackwatch.

masih ingin menjadi korban hoax??

48 Balasan ke Kandungan Thimerosal pada vaksin Hepatitis B dapat mengakibatkan autis

  1. Rizma Adlia mengatakan:

    iihh,, gila orang yang nyebarin itu!!! kalo orang ampe ga mau imunisasi Hep B gimana?? ckckck,,

  2. mama fanny mengatakan:

    saya sudah terima email tersebut diatas pada Januari lalu, saya terpengaruh juga, kala itu anak saya harusnya di beri vaksin HIB untuk kedua kalinya, tapi setelah membaca email tersebut dan tanya sana sini membuat saya ragu untuk memberikan vaksin tsb ke anak saya. Ketika saya tanya ke dokter katanya tidak ada timerosolnya, tapi menurut dokter itu kalau saya ragu ya lebih baik tidak, toh vaksin itu bukan masuk dalam vaksin wajib yang harus diberikan kepada anak-anak. Jadinya sampai sekarang anak saya hanya sekali mendapatkan vaksin HIB. Parahnya lagi di lingkungan saya hampir semua ibu-ibu tidak memberikan vaksin HIB ke anaknya, jadinya saya semakin ragu aja nih…

  3. Lita mengatakan:

    Mama Fanny
    Mbak, keputusan untuk memberi vaksinasi jangan dipengaruhi oleh kenyataan bahwa ibu-ibu di lingkungan mbak ngga memberi vaksinasi dong, ya.
    Bukan dengan maksud menuduh, tapi sebagian orang tidak memberi vaksinasi pada anaknya karena ‘they just don’t care’ atau ‘they just don’t know’. Ngga papa ngga tau, kalau kemudian mencari tahu.

    Lha kalau ngga tahu lalu ngga pengen cari tahu, atau ngga mau cari tahu sebenarnya dan kemudian nyari referensi untuk mendukung/membenarkan bahwa vaksinasi itu ngga perlu dan berbahaya, ini kan ‘bahaya’. Sedihnya, kebanyakan orangtua di golongan ini lalu mengajak orangtua-orangtua lain untuk melakukan hal yang sama. Jadinya kan ‘sesat dan menyesatkan’ :p

    Saya sudah beberapa kali menulis tentang vaksinasi, thimerosal, dan autisme yang KATANYA saling berkait ini. Nyatanya, sampai sekarang penelitian masih jalan terus. Ngubek-ubek kemungkinan, dan belum ada yang menemukan korelasi LANGSUNG dan jelas antara thimerosal dan autisme. Berita terakhir, autisme disebabkan oleh hadirnya gen tertentu.

    Dokter mbak benar, kok. Tidak semua vaksin mengandung thimerosal. Kita bisa minta untuk diberi vaksin dengan kandungan bahan pengawet yang lain.
    Mungkinkah karena vaksin HIB ‘tidak populer’? Bidan di dekat rumah saya tidak sedia vaksin ini, semata-mata karena beliau memang tidak tahu tentang HIB (waduh… mungkin referensi yang beliau gunakan kurang ‘up to date’ yak).

    @bout this article
    Tentang artikel ini sendiri, pastinya yang menulis TIDAK TAHU bahwa sejak jaman dulu kala autisme sudah ada. Hanya belum dinamai autisme. Ada kok semacam sanatorium khusus yang menampung orang-orang autis. Sebaiknya sebelum dia nulis, Googling dulu ya🙂

    Gak ada hubungannya ah sama perang bio. Lha Amrik sendiri juga pernah make vaksin yang mengandung thimerosal, kok. Jadi hampir seluruh dunia pernah merasakannya. Perang gimana kalo kaya gini😀

    FYI, vaksin Hepatitis B itu wajib, bukan ‘tambahan’ (menyanggah yang di KafeGaul). Bayi baru lahir harus langsung diberi vaksini ini karena Indonesia adalah negara dengan endemik Hepatitis B alias pengidapnya di atas 10% populasi (dan kebanyakan bersifat silent atau kronis, jadi carrier-nya ngga tau kalo dia terinfeksi).

    Vaksin ini -menurut pengalaman saya- menyelamatkan kehidupan dua anak saya. Saya carrier, saya tidak tahu bahwa saya mengidap Hepatitis B, dan saya hampir pasti mewariskannya juga pada anak-anak yang dilahirkan.

    Maaf komentarnya jadi panjang suranjang🙂 Gemes. Dan ini juga bukan versi ‘asli’nya deh. Beberapa paragraf awal itu sepertinya tambahan ‘baru’.
    Salam imunisasi🙂

  4. Lita mengatakan:

    Ups, maaf. Yang saya maksud ‘yang menulis TIDAK TAHU’ itu adalah penulis email yang minta diforward, BUKAN penulis entri :p Semoga tidak ada salah paham.

  5. sandynata mengatakan:

    #Lita
    wah makasih udah ditanggapi banyak, mudah2an bisa memperjelas tulisan/penjelasan saya di artikel ini.

  6. Bang Mandor mengatakan:

    Kalau MMR berbahaya tidak buat bayi katanya bisa bikin autis???

    Thanks
    http://www.bangsabodoh.co.nr/

  7. Indonuternd mengatakan:

    Maaf bukan mau menyela.. tapi saya lebih aman menkonsumsi Herbal Alami yg jg dapat mencegah penyakit hepatitis (bahkan bisa menyembuhkan, informasinya di http://www.nutrend-intl.com/nutrend_media_body_08.html )

    Trim’s

  8. haris mengatakan:

    Waspada autis…semakin hari semaki banyak jumlahnya.
    situs terbaik terapi autis yang bisa dibuktikan ada di http://www.autismaterapi.blogspot.com

    • Gerry mengatakan:

      Ini penanggung jawabnya Drh.?
      Bpk.Drh.HARIS GUNTUR HAKTITA
      (Alumni Medicine Veteriner UGM )
      Apa yg membuat Drh tertarik menangani autisme?

  9. maia mengatakan:

    apa anda bisa menjamin vaksin yg beredar di indonesia aman dari mercuri dkk……
    Buktikan dengan penelitian dan data yang valid!!!!!
    silakan lihat dihttp://www.freelists.org/archives/ak93-feua/12-2003/msg00005.html

  10. sandynata mengatakan:

    #maia
    anda itu gimana to? kok memberikan balasan malah berupa hoax yang ditampilkan disini ? sekarang saya balik tanya, bisa kah anda beri bukti valid kebenaran informasi yang link nya anda beri itu?

    secara, di artikel ini sudah diberi LINK/REFERENSI dari badan badan RESMI internasional

    piye piye …

  11. Lita mengatakan:

    Kalem mas Sandy🙂
    Kalau Maia yang itu dan Maia yang berkomentar di blog saya orangnya sama, dia bermaksud berjualan produk ‘pengganti’.
    Mari saya bantu menanggapi beliau, mas. Boleh ya🙂

    Berita baru: vaksin BUKAN obat, mbak.
    Jadi memberi alternatif obat (karena yang mbak tawarkan juga tidak termasuk obat) sebagai ganti vaksin adalah seperti berkata “Jangan beli jeruk yang itu, beli apel yang ini saja”.
    Lho mau beli jeruk kok dikasih apel. Mau pencegah kok dikasih obat?🙂

    Oh ya, berita baru lagi: vaksin ada yang halal, kok.
    Bukankah selama belum ada penggantinya, kategori hukumnya berada di bawah kategori ‘darurat’ yang berarti ‘boleh’? Atau saya yang kelewat baca risalah?

  12. Lita mengatakan:

    Dengan kecerobohan, saya telah salah mengerti maksud mbak Maia. Saya minta maaf, mbak. Anda tampaknya memang tidak bermaksud jualan, hanya merujuk kepada khasiat madu.
    Paragraf pertama pada komentar di atas saya nyatakan batal, dan dua paragraf selanjutnya tetap berlaku.
    Sekian, maafkan keburu-buruan saya yang sedang terburu-buru.

  13. SUWIRO mengatakan:

    ELU HATI2 KALAU MAU DIVAKSIN HEPATITIS B SUDAH ADA KORBAN JADI KITA HARUS HATI2 DAN JANGAN SAMPAI KITA MENJADI KORBAN BERIKUTNYA GITU LU COY SALOM

  14. eveline mengatakan:

    Sy ibu dari seorang anak autis yg berat …
    Memang tulisan yg pertama spt terlalu meng-gebu2…
    Tapi kalau bbrp vaksin mengandung thimerosal itu kayaknya benar, karena sudah banyak ditulis di jurnal kedokteran LN, buku, google, bahkan acara Oprah Winfrey sdh berani mengangkatnya, juga seorg senator Kennedy pernah mengangkat issue ini, dll.

    Dan bhw setelah vaksinasi tsb ada bbrp bayi yg ber-reaksi buruk (panas tinggi sekali, 40 C, hampir shock = hilang kesadaran, kejang), itu juga benar, misalnya anak sy wkt bayi… (jadi ada bayi yg kuat, ada yg tdk kuat).

    Mengenai PENYEBAB PASTInya autisme sampai skrg dokter, peneliti belum tau, belum sepakat. Tapi DIDUGA banyak faktor (MULTIFAKTOR) : a.l. thimerosal dlm bbrp vaksin, lalu faktor genetis, polusi, stres ibu wkt hamil, dll kan namanya juga dugaan… Ini juga sy dapatkan banyak kesamaan dgn ibu-ibu sesama ortu anak autis…

    Jadi bukan hanya 1 faktor, tapi bnyk faktor…

    (Ini sama dg orang cenderung gemuk atau tdk. Satu orang makan banyak tapi susah jadi gemuk, satu orang lain mkn bnyk jadi gemuk. Sama dgn alkoholic- itu juga ternyata faktor genetik).

    Orang yg mengirimkan surat pertama mungkin maksudnya baik, hanya ingin supaya generasi lebih muda hati-hati… Sama dgn perasaan saya skrg, kadang2 berpikir : “(I wish) Seandainya dulu ada yg memperingatkan saya…”. Padahal Ibu saya sering curiga : “Kok anakmu setiap habis vaksin, mesti sakit??” “Coba deh ditunda dulu!!” Tapi saya (sbg generasi muda & lebih percaya dokter daripada Ibu sendiri) terus, keukeuh, mengimunisasi anak sy sampai lengkap, walaupun hampir stiap kali dia panas tinggi…. — Betapa berdosanya saya.

    (Baca : waktu itu di mata “saya” (ibu muda, S-2, ngakunya pinter, tapi ternyata bodo melihat anak sendiri,
    “dokter” mewakili logika & ilmu pengetahuan, teknologi,
    “Ibu saya” mewakili generasi tua, lulusan SMEA, mengutamakan perasaan, kurang logic, jadi hasilnya? Tau rasa ndiri deh saya.. :))

    Salam, Eveline.

  15. Lita mengatakan:

    Dear Eveline,
    Beberapa vaksin memang mengandung thimerosal, tapi tidak semua. Ini bisa dilihat di labelnya. Jadi kalau menganjurkan orang untuk menjauhi vaksin dengan alasan ‘mengandung thimerosal’, tidak sepenuhnya benar, ya.

    Betul, beberapa bayi memiliki hipersensitivitas terhadap vaksin. Soal demam, ini tidak selalu ada hubungannya dengan thimerosal. Vaksin yang tidak mengandung thimerosal sekalipun dapat memicu demam tinggi. Jadi bukan karena thimerosalnya.

    Soal thimerosal sebagai pemicu autisme, hasil riset di UK dan USA, pasca penghilangan thimerosal dari vaksin, katanya jumlah kejadian autisme tidak menurun. Berarti autisme bukan karena thimerosal juga? Karena ada thimerosal atau tidak, angka kejadian autisme tetap naik.

    Pada anak dengan bakat autisme, divaksinasi atau tidak, tetap bisa develop autisme. Jadi rasanya mbak tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Tidak salah kok disalahkan🙂
    Kalau dengan tidak diberi vaksin, kemudian develop autisme DAN ditambah tertular penyakit (yang sebetulnya bisa dicegah oleh vaksin), apa mbak tidak lebih menyesal?

    Salam, Lita

  16. Astri mengatakan:

    Waktu saya ikut pelatihan tentang imunisasi sekitar 2 tahun yl, disampaikan jika jumlah timerosal dalam semua dosis vaksin yang diterima anak dijumlahkan, hasilnya masih jauh di bawah ambang batas kadar timerosal yang diijinkan.
    Soal imunisasi tambahan seperti HIB, MMR, Pneumokokus, dll itu bukan tambahan tapi dianjurkan hanya saja pemerintah negara kita masih belum mampu mengadakannya secara gratis.

  17. dokterearekcilik mengatakan:

    Yak….mbak Lita dan Astri bener…he…he soalnya udah dibahas semua jadi tinggal komentar pembenaran🙂

  18. eveline mengatakan:

    Dear all,

    Memang selalu ada pro & kontra ttg ini. Sy pernah baca artikel yg mengatakan thimerosal pd vaksin aman, juga pernah baca yg mengatakan tdk aman. Pernah baca sekilas berita yg menyatakan jumlah anak autis tidak menurun walaupun thimerosal sdh dihilangkan, dan pernah baca yg sebaliknya.

    Memang susah kalau bicara ttg ini, kecuali produsen vaksin sendiri yg bicara dgn jujur… Sy sendiri baru tau, seorang saudara jauh yg bekerja di industri ini, ternyata hanya memberikan vaksin2 tertentu utk anaknya (skrg sudah besar & sehat2 saja). Hanya yg sangat standard, dan itupun nggak dgn jadwal ketat spt jaman skrg. Kenapa, sy gak tau.

    Ini 1 artikel yg sy dapatkan dari Schafer (lupa alamat milisnya), judul : “Downward Trends in Neurodevelopmental Disorders” dimana 2 orang dokter / peneliti (?) David A. Geier and Mark R. Geier, MD.
    menyatakan : An assessment of downward trends in neurodevelopmental disorders in the United States following removal of thimerosal from childhood vaccines.
    (by David A. Geier and Mark R. Geier, MD)

    Summary Background: The US is in the midst of an epidemic of neurodevelopmental disorders (NDs). Thimerosal is an ethylmercury-containing compound added to some childhood vaccines. Several previous epidemiological studies conducted in the US have associated Thimerosal-containing vaccine (TCV) administration with NDs. Material/Methods: An ecological study was undertaken to evaluate NDs reported to the Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) from 1991 through 2004 by date of receipt and by date of vaccine administration. The NDs examined included autism, mental retardation, and speech disorders. Statistical trend analysis was employed to evaluate the effects of removal of Thimerosal on the proportion of NDs reported to VAERS. Results: There was a peak in the proportion of ND reports received by VAERS in 2001–2002 and in the proportion of ND reports by date of vaccine administration in 1998. There were significant reductions in the proportion of NDs reported to VAERS as Thimerosal was begun to be removed from childhood vaccines in the US from mid-1999 onwards. Conclusions: The present study provides the first epidemiological evidence showing that as Thimerosal was removed from childhood vaccines, the number of NDs has decreased in the US. The analysis techniques utilized attempted to minimize chance or bias/confounding. Additional research should be conducted to further evaluate the relationship between TCVs and NDs. This is especially true because the handling of vaccine safety data from the National Immunization Program of the CDC has been called into question by the Institute of Medicine of the National Academy of Sciences in 2005. To read entire report, click here. http://tinyurl.com/mx2qs

    Juga sudah dimuat terjemahannya dalam website YAI (Yayasan Autisma Indonesia) di http://www.autisme.or.id/berita/article.php?article_id=63
    Ini sy copy paste-kan :

    Autisme menurun setelah merkuri dikeluarkan dari vaksin
    09.03.2006
    ———————————————————-

    Para peneliti independen memakai database pemerintah untuk menganalisa laporan mengenai gangguan saraf pada anak, termasuk autisme, sebelum dan sesudah thimerosal dibuang dari vaksin anak.
    David A. Geier BA dan Mark Geier MD PhD, menulis : “Early Downward Trends in Neurodevelopmental Disorders Following Removal of Thimerosal-containg Vaccines”
    Data tulisan itu diambil dari VAERS ( Vaccine Adverse Event Reporting System) dan CDDS ( California Department of Developmental Services).

    California melaporkan kejadian autisme ada 800 pada bulan Mei 2003. Kalau peningkatan ini berlanjut, maka diperkirakan bahwa angka tersebut akan meningkat lagi sampai lebih dari 1000 pada permulaan 2006. Namun Geiers melaporkan, bahwa angka itu justru menurun sampai 620, penurunan 22 %.

    Analisa ini mematahkan rekomendasi dari IOM (Institute of Medicine) yang berbunyi :
    IOM menyatakan bahwa bukti2 yang ada menyebabkan penolakan dari adanya hubungan antara thimerosal dan autisme, bahwa hubungan seperti itu tidak mungkin terjadi secara biologis. Karena itu penelitian tentang hal ini tidak perlu dilanjutkan.

    Dengan makin banyaknya vaksin yang diberikan pada anak-anak, dosis thimerosal meningkat, sehingga penumpukan dosis tersebut melebihi dosis keracunan yang telah ditetapkan oleh beberapa badan dalam pemerintah. Merkuri diketahui merusak sel otak pada dosis yang sangat rendahpun.

    Sampai tahun 1989 anak prasekolah hanya mendapatkan 3 jenis vaksin , yaitu polio, DPT dan MMR. Tahun 1999 vaksin yang direkomendasikan pada anak pra-sekolah meningkat sampai 22 vaksin yang diberikan sebelum anak mencapai kelas 1 SD. Yang berat adalah pemberian vaksin hepatitis B yang diberikan pada anak 24 jam setelah lahir. Kebanyakan vaksin ini mengandung merkuri.
    Jumlah kumulatif merkuri yang diberikan pada anak mencapai 187 kali lebih dari limit yang ditetapkan oleh EPA (Environmental Protection Agency).

    Antara tahun 1989 dan 2003 terdapat ledakan autisme. Insidensi autisme dan gangguan saraf lain meningkat dari 1:2500 sampai 1:166. Saat ini lebih dari setengah juta anak di Amerika menderita autisme. Gangguan ini membuat panic para keluarga.

    Tahun 1999 atas rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics) dan US PHS (Public Health Service) thimerosal dikeluarkan dari vaksin anak.

    Geiers menyimpulkan bahwa merkuri tetap merupakan hal yang harus diwaspadai oleh karena masih saja dimasukkan sebagai pengawet pada vaksin2 seperti vaksin flu yang diberikan pada anak2 di Amerika, begitu juga pada vaksin tetanus-diphteri dan tetanus monovalen..

    Juga tambahan yg mungkin sudah diketahui, ini yg sy bilang pertama : ada multifaktor (bisa genetik, bisa keracunan logam berat, bisa krn thimerosal, dll faktor yg kita belum yakin) :

    Logam berat mungkin berperan pada tercetusnya autisme
    01.06.2006

    ————————————————
    Sampel urin dari ratusan anak Perancis membuktikan adanya hubungan antara autisme dan paparan logam berat.Bila ini benar, maka beberapa kasus autisme dapat disembuhkan dengan kelasi.

    Sampel urin anak-anak dengan autisme mengandung kadar porphyrin yang sangat tinggi.

    Porphyrin adalah suatu jenis protein yang memegang peran penting dalam produksi “haem”, yaitu komponen yang membawa oksigen dalam haemoglobin. Logam berat menghalangi produksi haem, meyebabkan porphyrin tertumpuk dal;am urin.
    Konsentrasi dari molekul coproporphyrin 2.6 kali lebih tinggi dalam urin anak-anak dengan autisme dibanding dengan anak normal.

    Faktor-faktor genetik dan lingkungan memegang peran penting sebagai penyebab autisme.

    Richard Lathe dari Pieta Research di Edinburgh, Inggris, mengatakan bahwa ia telah menemukan salah satu factor tersebut. “Kemungkinan sangat besar bahwa pada sebagian besar anak2 autistik, logam-logam berat bertanggung jawab untuk tercetusnya autisme tersebut.”
    Penelitiannya akan dipublikasikan di : Toxicology and Applied Pharmacology.

    Menurut Lathe, metabolit porphyrin mengikat reseptor diotak dan dapat menimbulkan epilepsy dan autisme.
    Para peneliti tersebut mengembalikan kadar porphyrin menjadi normal pada 12 anak dengan cara melakukan “kelasi”, yang membersihkan tubuh dari logam berat dan mengeluarkannya. Belum diketahui apakah gejala anak-anak tersebut telah membaik, namun menurut Lathe ia mendapatkan laporan yang positif.

    Penelitian dapat dibuka di website : http://filariane.org/anglais/DOC/MSFINAL.pdf

    Salam, Eveline

  19. mamadaffa mengatakan:

    Jadi kesimpulannya apa dong?

  20. dewie mengatakan:

    Sblmnya Mohon Maaf bila ada kata2 yang menyinggung.
    Yang ini sama sekali bukan HOAX
    Ini adalah curahan hati seorang Ibu mengenai kondisi anaknya
    Kebetulan saya pernah bertemu dengan mamanya Joey (penulis)
    Bila anda bertemu dengan penulis.. anda pasti mengerti penderitaannya
    dan mengapa beliau sampai menulis hal tsb
    Ada dua penelitian yang saling bertentangan mengenai masalah vaksin ini
    Dan sialnya salah satu pihak adalah badan yang sdh dipercaya: WHO

    Salam..

  21. Fathan mengatakan:

    Bila pemberian imunisasi hepatitis B kelebihan 2 dosis dari yang seharusnya diberikan, apakah akan mengakibatkan efek buruk pada bayi?
    mohon tanggapan dan penjelasannya.
    terima kasih

  22. Anita mengatakan:

    divaksin maupun tidak divaksin, yang jelas memiliki anak dengan gangguan autis merupakan perjuangan panjang. Yang pro thimerosal mungkin sebaiknya mencobakan vaksin2 tersebut pada anak2 dan keluarga terdekatnya lebih dulu.

  23. Agus mengatakan:

    Info dari Eveline bagus sekali, ini juga masukan buat pemilik blog & kita semua agar ke depan bisa lebih berhati-hati dalam men-judge suatu berita. Googling 5 menit yang dibanggakan ternyata belum cukup untuk menjadi dasar klaim betul tidaknya berita ini, terlebih lagi bila blog ini bermaksud menjadi rujukan bagi banyak pihak.

    Pada petikan paragraph dibawah ini, penulis berita sudah bersikap fair, dia TIDAK PERNAH menghimbau kita untuk tidak imunisasi, hanya menghimbau kita u/ bernegosiasi:
    “Kepada para orang tua dan calon orang tua, marilah kita bersikap proaktif, dan assertif dengan menolak vaksin yang mengandung Thimerosal tersebut, cobalah bernegosiasi dengan dokter anak kita, minta vaksin Hepatitis B dan HiB yang tidak mengandung Thimerosal.”

    Jadikan info ini sebagai pijakan untuk memulai negosiasi atau acuan u/ mendapatkan vaksinasi yg lebih baik bagi anak2 kita. Jadi memang harus dicermati maksud penulisannya, dan… kitapun jangan sampai salah menafsirkan.

    Imunisasi itu penting, janganlah dengan adanya info ini kita menghindari imunisasi, justru sebaliknya, jadikan info ini sebagai peningkatan standard kita untuk mendapatkan imunisasi yang jauh lebih baik🙂

    Salam.

  24. obot mengatakan:

    http://www.fda.gov/cber/vaccine/thimfaq.htm

    FDA 2004:
    The committee concluded that this body of evidence favors rejection of a causal relationship between thimerosal-containing vaccines and autism, and that hypotheses generated to date concerning a biological mechanism for such causality are theoretical only. Further, the committee stated that the benefits of vaccination are proven and the hypothesis of susceptible populations is presently speculative, and that widespread rejection of vaccines would lead to increases in incidences of serious infectious diseases like measles, whooping cough and Hib bacterial meningitis

  25. eveline mengatakan:

    Tolong baca ini,
    Age of Autism (editor Dan Olmsted), 27 Februari 2008 (baru thn ini):
    http://www.ageofautism.com/2008/02/govt-admits-vac.html

    Gov’t admits vaccine autism link

  26. nabila mengatakan:

    Nah saya setuju dengan tanggapan supaya meminta pada dokter vaksin yang tidak mengandung thimerosal, namun ada baiknya jika teman-teman yang sudah tahu nama vaksin tersebut untuk berbagi pada kita-kita para orang tuan yang membutuhkan info tersebut segera karena anak-anak yang harus di vaksin tidak bisa menunggu lama.🙂

  27. bigmaul mengatakan:

    Jadi bingung mau melanjutkan imunisasi?Anak saya lahir 23 Nov 08 diimunisasi pertama kali pada tgl 06 De 08 dia langsung diberikan dua imunisasi sekaligus yaitu polio dan hepatitis B.berbahaya kah dua imunisasi sekaligus tersebut?sampai dengan saat ini anak sy tidak ada keluhan panas.sebelum diimunisasi dia sering bangkis tetapi tidak sering sehari 1-2 kali, apakah itu pertanda Flu pada bayi?kata dokter imunisasi berikut 03 jan(imunisasi BCG kalau ga salah) perlukah sy lanjutkan?menurut ibu eveline, dia punya saudara jauh yang hanya memberikan imunsasi tertentu.Mohon diberitahu imunisasi apa sj?

  28. eveline mengatakan:

    Krn sy bukan dokter, sy gak boleh kasih pendapat ttg bahaya tidaknya. Ttg flu atau bukan, ya pergi ke dokter dong/lah…🙂

    Cuma pesan saya, dr pengalaman: Anak harus BENAR-BENAR FIT waktu imunisasi (bukan baru sembuh dari sakit, katakanlah dlm 1-2 mg terakhir, juga tidak sdg panas/hangat). Krn pernah anak sy tetap divaksinasi pdhal sy sudah laporkan kpd dokternya (dr. terkenal di Bdg) bhw tadi paginya 37C, (reaksinya ketawa sambil: “37 mah nggak panas atuh, Ibuuu….”) Ternyata sesudah imunisasi panas tinggi berhari-hari 39-40C sampai lemes sekali.
    Moms/dads, follow your intuition… ! Itu anak loe sendiri, bukan anaknya dokter !

    Dari pengalaman dgn anak kedua, imunisasi Campak tetap perlu, krn akibatnya dia 2 kali kena campak yg ramai/banyak, diopname pula, jadi mahaaaal.

    Tapi sy pribadi (pribadi loh!) menganggap belum perlu vaksin Hib.

    Ttg thimerosal berhub. tdk dgn autism baca lagi http://puterakembara.org/rm/Alergi5.shtml
    Sebetulnya yg perlu waspada kalau mau imunisasi adalah bayi2 yg keluarga atau sepupu nya ada yg autis.

    Catatan:
    – BCG : Umumnya Thimerosal Free

    – Polio : umumnya juga thimerosal Free, tapi sebaiknya jangan yang mass product (diteteskan dimulut) karena pengawetnya masih mengandung senyawa
    merkuri organic dalam batas kecil. Pilih yang aman, yang berupa suntikan.

    – DPT : minta DPaT Infanrix (katanya thimerosal free tapi sy pernah baca juga tidak), tapi harganya cukup mahal, dan tidak menyebabkan anak panas.
    (Saya juga minta ke dr. yg ini utk anak kedua, karena ketika disuntik DPT yg biasa panas tinggi sekali.)

    – Hepatitis B : minta yang merknya Hep B Engerix (thimerosal free juga ktnya, tapi entah…)

    – HiB : minta yang HiB Hiberix (thimerosal free) atau Act Hiberix, juga thimerosal free.

    Sudah dulu ya, ini kebetulan sy iseng mampir ke sini. Saran saya, orang tua banyak2lah membaca / belajar / denger2 orang (walaupun jangan langsung percaya).
    Tapi jangan kebanyakan baca juga, ntar lupa lagi ngurus anak😀

  29. papatari mengatakan:

    To All.
    Pada dasarnya tubuh manusia punya kemampuan untuk memerangi penyakit yang datang. Buktinya moyang dulu tanpa apa2 juga sehat. Eiit..tapi tunggu dulu, selain yang sehat juga banyak yang sakit juga???kenapa??
    Nah karena itulah timbul ide Imunisasi/vaksinasi, mencegah timbulnya penyakit.
    Tubuh manusia sangatlah komplek sehingga tidak ada 1 manusia pun didunia yang kondisinya sama/identik, bahkan pemetaan genetik manusia sampai saat inipun belum bisa 100% terpetakan.
    Genotip+fenotip
    Memasukkan zat asing kedalam tubuh apapun itu bentuknya, pasti akan direspon oleh tubuh.
    Memakan makanan sehat aja direspon apalagi memasukkan zat yang beracun…
    Mercury/Hg berapapun dosisnya tetap merupakan RACUN..
    Kalau terdapat asupan Hg secara periodik tentunya akan menambah kadar Racun tersebut dalam tubuh.
    Kita yang harus bijak, Thimerosol mengandung Racun..sekecil apapun racun itu..Dia tetaplah RACUN..
    Jadi gunakan Vaksin yg tidak ada kadar Racunnya saya rasa.

    Telat saya kurang baca mengenai vaksin, jadi menurut dokter besok vaksin…vaksin lah anak saya…
    Dokter juga manusia..bisa salah karena kurang pengetahuan

  30. Damen mengatakan:

    Saya seorang praktisi kesehatan masyarakat, istri saya seorang dokter, dan kami saat ini sedang menantikan kelahiran anak kami yang pertama (sekitar ahir bulan depan).
    Terkait penelitian Jaquelyn McCandless sebetulnya dia sendiri mengatakan begini: “Though I agree that long-term peer reviewed studies do not yet prove the relationship between the MMR and autism, I believe the report was misleading to the general public and especially to parents or parents-to-be”
    Dia sendiri mengakui bahwa belum ada penelitian yang mendalam hubungan antara MMR dan autisme, jadi teori yang dia kembangkan dalam buku itu masih berupa hipotesa.
    Hal yang penting adalah jangan sampai orang jatuh pada kesimpulan “imunisasi gak perlu atau bahkan berbahaya karena dapat menyebabkan autisme”. Sebetulnya lebih berbahaya lagi kalau tidak imunisasi, di negara-negara berkembang ratusan bahkan ribuan anak meninggal setiap tahun karena tidak diimunisasi MMR. Secara kasar ada orang mengatakan “lebih baik mana mati karena tidak diimunisasi atau autis karena imunisasi”
    Mungkin saja indikasi yang ditemukan oleh Jaquelyn itu ada, tapi sampai saat ini belum ada pernyataan resmi baik dari badan berwenang maupun dari dia sendiri yang cukup valid dan bisa menjadi landasan.
    Yang penting bagi kita adalah, perilaku mencari informasi yang tepat (carilah pada sumber terpercaya dan cari sebanyak dan seakurat mungkin). Perilaku memberi informasi (berilah informasi secara bertanggungjawab). Penting juga memperbaiki sistem layanan informasi kesehatan kita, para penyedia informasi kesehatan (dokter, rumah sakit dll) harus terbuka dalam memberikan informasi terbaik pada kliennya.
    Terimakasih

  31. eveline mengatakan:

    1. Yang dibicarakan di sini utamanya bukan MMR, tapi Hib & Hepatitis B. Jangan terlalu fokus ke MMR, pak Damen !
    2. Justru krn kasihan kpd orang lain (merasa punya tanggung jawab sosial), maka orang men-share apa yg dialami. Paling aman tentu diam saja, tidak akan disanggah atau dicap hoax.
    3. Setuju dgn pernyataan: Hal yang penting adalah jangan sampai orang jatuh pada kesimpulan “imunisasi gak perlu atau bahkan berbahaya karena dapat menyebabkan autisme”.

  32. Nunu mengatakan:

    Hmm, mba Eveline sepertinya yang dibicarakan utamanya bukan Hib & Hepatitis B tapi thimerosalnya? Itu kan yang dicantumkan dalam link2 dari mba Eveline?
    Betul bahwa karena kasihan maka men-share apa yang dialami. Tapi seandainya ada yang jadi tidak memvaksin anaknya karena berita ini dan anaknya jadi terkena HepB (ini kan fokusnya?) yang kemungkinan besar akan menurun ke anak2nya sehingga membuat beberapa pilihan masa depannya tertutup krn HepB(mis dokter atau kuliah di keluar negeri), di mana tanggung jawab sosialnya?

    • Gerry mengatakan:

      – Iya, thimerosal (etil merkuri) dalam vaksin HIB & Hep B, itu yg dibahas. Bukan MMR.
      – Tidak ke luar negeri bukan akhir dunia. Masih bisa sekolah umum masih syukur… Punya anak autis (yg berat) lebih parah lagi. Ditolak sekolah sudah biasa. Terpaksa belajar sendiri/terapi. Iya kalau ada duit. Belum kalau anak hilang/kabur. Dalam negeri. Luar negeri. Berapa yg belum ditemukan. Ada Ardi umur 22 thn (autis) setelah 2 thn baru ditemukan. Ada yg tidak pernah ditemukan lagi…. Ini yg cuma semalam tapi keluarganya sampai capek mencari & sudah lapor polisi. Untung ada orang yg antarkan ke rumah (anak sdh tanpa baju).

      Fwd: Cerita anak Autis yang kemaren hilang dan sudah ditemukan kembali…
      Posted By: Sat Jul 4, 2009 3:32 am |

      Kemaren saya sempat posting nyebarin berita anak autis hilang… Alhamdulillah sekarang sudah ditemukan….

      Hanya untuk menghimbau kepada kita semua,
      Bila suatu hari menemukan seorang anak, bahkan mungkin remaja, yang tampak tak tentu arah, seperti anak hilang, tak tau siapa nama apalagi alamat rumahnya, please….jangan segan untuk mengulurkan tangan…

      Dia butuh bantuan…
      Dia tak tau dunia macam apa yang dihadapinya, tidak tau bahaya apa yang menghadangnya…..Juga tidak tau bagaimana cemas orang tuanya,menangis dalam doa berharap pada-Nya agar si Anak tetap aman di luar sana.

      Bila para sahabat menemukan seorang anak autis (atau anak special needs children lainnya) yang tidak tau arah pulang ke rumahnya, mohon berbaik hati melaporkan kepada polisi.Mereka memang terkadang tampak aneh dan out of control,tak bisa diajak bicara nyambung, tapi tolonglah dia…
      Orang tuanya pasti sudah sangat cemas mencarinya.
      ——-CUT——-

  33. sehat4life mengatakan:

    hallo
    bagus bahasan di blognya.
    mau sharing, seorang pakar autis mengatakan bahwa autis bisa diterapi dengan diet yang spesial. silahkan kunjungi blog saya bila mau info lebih lanjut.
    http://distributor4lifeindonesia.wordpress.com/2009/03/13/pengobatan-autis-terapi-autis-dan-ciri-ciri-autis/
    terima kasih
    semoga artikel-artikelnya semakin bertambah dan mencerahkan orang-orang

  34. eveline mengatakan:

    Dear Nunu & yg lain,
    – Betul yg dibicarakan Hib, Hep B & thimerosal.

    – Lalu utk menjawab itu, kan sudah ada no. 3 tgl 10 Maret? Makanya kalau baca itu jangan hanya surat terakhir saja, mesti dari awal (tulisan mama Joey paling atas). Sy kutipkan lagi deh ya (tulisan 10 Maret):
    “3. Hal yang penting adalah jangan sampai orang jatuh pada kesimpulan “imunisasi gak perlu atau bahkan berbahaya karena dapat menyebabkan autisme”.

    Dan juga tgl 9 Feb, tulisan saya:
    “Anak harus BENAR-BENAR FIT waktu imunisasi (bukan baru sembuh dari sakit, katakanlah dlm 1-2 mg terakhir, juga tidak sdg panas/hangat).”

    Jadi siapa yg bilang gak boleh vaksin?
    Coba hati-hati kalau baca & menyimpulkan.

    Masalah ada orang tua yg tidak jadi memvaksinkan anaknya itu bukan tanggung jawab saya atau ortu autis lainnya. Jelas2 itu keputusan dari orang tua ybs.

    Kalimat anda ini memojokkan. Yg salah itu siapa sekarang? Pembuat vaksin, thimerosal atau siapa?

    Tahukah anda, gara-gara autis yg berat & hiperaktif (ADHD) & bahkan suatu syndrom juga, anak sy boro-boro sekolah ke luar negeri seperti dlm kalimat anda yg memojokkan ini, tapi sekolah biasa aja gak mampu, bahkan guru SLB tidak mampu menghadapinya krn terlalu hiperaktifnya & susah konsennya. (–> Terpaksa belajar privat di rumah).

    Anak sy bahkan tdk bisa main bola spt anak laki2 lainnya krn kaku2 tangan & kakinya, tdk punya teman selain kami ortunya & adiknya. Diledekin “gila” dll…?? Dengar tangisan & teriakan hampir sepanjang hari sampai dini hari (dulu) sudah jadi kehidupan kami sehari-hari. Kelelahan sdh jadi sahabat kami. Atau melihat dia ketabrak ojek pd usia 8 thn(krn lari sana sini kurang ngerti bahaya)…

    Tahukah anda, sampai2 ibu saya keceplosan: “Rasanya masih lebih baik ngobatin Hep B (krn adik sy pernah 3 bulan sakit ini dulu & sembuh) daripada ngobatin anakmu ini…”

    Karena beliau melihat sudah tenaga, pikiran, uang keluar selama ini tapi toh anak saya belum “normal” juga dlm usianya yg remaja ini…

    Tahukah anda, 2 orang ipar sy (padahal dokter) sampai2 menundakan dulu vaksin Hep B utk bayinya yg baru lahir?? Bukan krn sy bujuk atau sy bilang ada hub.nya dgn vaksin, tapi krn melihat dgn mata sendiri penderitaan keponakannya selama ini… jadi mrk lebih berhati-hati utk anaknya (= sepupu anak sy, jadi berpeluang utk autis, jika ada faktor yg men-trigger)

    Dear sehat4life,
    saya sudah menjalankan diet CFGF (kadang plus SF) utk anak saya bbrp tahun, juga rotasi makanan, dan macam2 suplemen, juga obat penenang cukup lama (tahunan), tapi belum sembuh.
    Sekarang hanya tinggal banyak berdoa & minta didoakan… Hampir semua usaha duniawi (macam2 terapi, diet, suplemen) sudah dicoba & ternyata kurang efektif, dan kini tinggal terserah TUHAN…

    Dear pembaca semua, sy cukupkan sampai sini saja ya, karena mulai ada yg salah tangkap nih, padahal semua tulisan sy cukup jelas kan? (asalkan dibaca dari awal thread dgn teliti). Yg rumit memang pembahasannya. Jangan “jump the gun” aja dong, maunya cepet2 ambil kesimpulan sendiri. Udah dulu ya, Salam…

  35. ggg mengatakan:

    pemerintah america dan WHO mencoba menutup-nutupi keterkaitan antara thymerosal dan autisme cek link berikut http://www.drjaygordon.com/development/news/deadly.asp

  36. leedia mengatakan:

    to everyone,
    mungkin sebenernya disini adalah forum untuk men-share pengalaman saja. bukan untuk menyalahkan siapapun ataupun memojokkan siapapun. kalo dari membaca pengalaman2 diatas ternyata ada orang tua yang memutuskan untuk tidak mengimunisasikan anaknya, itu adalah pilihannya sendiri. yang saya harapkan, semoga orang tua tersebut mengambil keputusan setelah mencari2 lebih banyak informasi dan konsul dg dokter ato orang yang ahli. tidak semata2 dari tulisan2 diatas.
    memang benar, kita sebagai orangtua harus banyak2 mencari info tentang banyak hal yang berhubungan dengan kesehatan anak. agar dikemudian hari kita tidak menyesal. piss for all

  37. ardian mengatakan:

    kandungan vaccine emang sangat berbahaya yaitu mengandung thimerasol (derivat mercury), aluminium , formalin dll
    jadi memang vaksin sangat berbahaya utk saraf dan memang dikaitkan dengan gangguan saraf spt perdarahan otak, kejang, autis, GBS dll

    agar lebih obyektif silakan buka link
    http://www.novaccine.com

    atau masuk dan login ke youtube.com
    kemudian search: vaccine, danger

    sebelum bertindak sebaiknya pikir dulu
    karena konsekuensinya bisa jadi sangat besar dan berat

  38. ardian mengatakan:

    buat ibu eveline yg ada gangguan autis pada anaknya
    coba bu diusahakan utk terapi

    autis disebabkan oleh tinginya kadar logam di tubuh dan otak
    dan ini bisa diturunkan dengan beberapa cara spt yg pernah saya baca
    1. di bekam
    2. homeopathy, atau terapi herbal spt madu, jus dll
    3. penyuntikan darah plasenta (cord blood)

  39. ardian mengatakan:

    penulis terjebak utk `hanya` mengambil sumber dari mainstream news

    tentu lebih obyektif mengambil source dari mainstream dan juga dari luar itu

    coba cek http://www.thinktwice.com misalnya

  40. ardian mengatakan:

    anak yg masih kecil, mungil belum sempurna semua sistemnya malah dijejali puluhan kuman dan juga zat2 beracun yg termasuk paling bahaya dimuka bumi ini spt mercury, aluminium dll

    tentu bisa muncul bermacam-macam problem pada anak yg mempunyai genetik rentan
    spt GBS, kejang, diare, inflamasi saraf, perdarahan otak, autisme, gangguan pembelajaran otak dll

  41. adihusada mengatakan:

    Sebenarnya kesimpulannya hanya ada 2:
    1. Ortu yg mau ya silahkan… dengan catatan harus lebih teliti kalau anaknya ga mau autis atau kalau ga teliti ya dengan resiko anak anda bakal “AUTIS”
    2. Ortu yg ga mau ya silahkan… dengan catatan kalau infeksi dari luar & daya tahan tubuh rendah resikonya “TERJANGKIT dan SAKIT”
    Perlu diingat : “Anak anda bukan milik orang lain, terserah anda mau di jadikan apa, dan masa depannya tergantung orang tua, pilih jalan yang menurut anda Paling Tepat”

    • zaki mengatakan:

      Menanggapi kesimpulan yang ke 2…
      Apa pasti, vaksin bisa menguatkan daya tahan tubuh?
      Lebih kuat mana bayi yang pake kolustrum, lanjut ASI 2 tahun, sayur, buah, madu, kurma, etc…. dibandingkan bayi yang pake imunisasi ketat??
      Dari segi kecerdasan, kira2 mana yang lebih cerdas??

  42. hipong mengatakan:

    simbah2ku ora di imunisasi sehat2 wae….umur 104th iseh kuat macul…py jal….??

  43. […] Vaksinasi Hepatitis B sudah diwajibkan di Indonesia. Pemberian vaksinasi Hepatitis B kepada Luna ini tak akan bisa taat jadwal, tentu saja. Kalau rekan-rekan ingin mempertimbangkan pemberian vaksinasi ini kepada buah hatinya, saya menyarankan agar menyimak baik-baik berbagai komentar pada tulisan ini: https://hoax.wordpress.com/2007/04/27/kandungan-thimerosal-pada-vaksin-hepatitis-b-dapat-mengakibatka… […]

  44. crystalspace3d.org mengatakan:

    Hi, I think yyour blog might bee having browser compatibility issues.
    When I look at your blog in Safari, it lookks fine but when opening iin Internet Explorer,
    it has sme overlapping. I just wanted too give you a quick heads
    up! Other then that, fantastic blog!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: